Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja

Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal. Buku ini berisi catatan faedah dari penulis yang beliau peroleh dari pelajaran fikih madzhab Syafi’i khusus membahas fikih puasa hingga amalan iktikaf. Buku ini diambil dari Matan Abu Syuja dan berbagai syarah atau kitab penjelas. Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja. Insya Allah penjelasan yang ada begitu menarik dan menjadi ilmu berharga dalam memahami hukum puasa, bahkan ini jadi dasar untuk memahami permasalahan puasa kontemporer.

Baca juga: 24 jam puasa bersama Nabi

Seperti kata pepatah bahasa kita, “Tak ada gading yang tak retak,” kami sendiri merasa buku ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak—yang bersifat membangun—selalu kami nantikan demi semakin baiknya buku ini.

Berbagi Faedah Fikih Puasa

Biar ibadah puasa kita tidak sia-sia, kita butuh ilmu. Ingatlah apa yang pernah dikatakan oleh ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz,

“Barang siapa beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang diperbuat lebih banyak daripada kebaikan yang diraih.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 2:382).
Untuk mempermudah dalam memahami hukum-hukum puasa, kami ingin sajikan dari kitab fikih Syafi’i yang sudah masyhur di tengah-tengah kita yaitu kitab Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib, disebut pula Ghayah Al-Ikhtishar, atau ada pula yang menyebut Mukhtashar Abi Syuja’. Kitab ini disusun oleh Ahmad bin Al-Husain Al-Ashfahani Asy-Syafi’i (hidup pada tahun 433-593 H). Lalu matan tersebut akan dijelaskan dari penjelasan para ulama terutama ulama Syafi’iyah.

Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja
Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja

Pengertian puasa

Puasa secara bahasa berarti menahan diri (al-imsak) dari sesuatu. Hal ini masih bersifat umum, baik menahan diri dari makan dan minum atau berbicara. Sebagaimana Allah c berfirman tentang Maryam,
“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Rabb Yang Maha Pemurah.” (QS. Maryam: 26). Yang dimaksud berpuasa yang dilakukan oleh Maryam adalah menahan diri dari berbicara sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayat, “Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.” (QS. Maryam: 26).
Sedangkan secara istilah, puasa adalah:
“Menahan hal tertentu yang dilakukan oleh orang tertentu pada waktu tertentu dengan memenuhi syarat tertentu.” (Lihat Kifayah Al-Akhyar, hlm. 248).

link download ebook: https://drive.google.com/file/d/1Ejhr4egnskyK2kflFZrMRYrx6vZ3MX-7/view?usp=sharing

baca secara online:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *